“Kejujuran dan Keiklasan yang Mulai Jarang ditemukan di Zaman Sekarang Ini”
Nama : Andrian Dwi Permana
Pekerjaan : Mahasiswa Semester Lima IKIP PGRI Semarang (PBSI)
Alamat : Desa Cepiring Rt2, Rw 4 Kendal
No HP : 083842752098
Menemukan orang yang jujur dan ikhlas di zaman sekarang ini memang jarang atau bahkan sulit dijumpai, karena bisa dibilang orang yang jujur dan ikhlas itu mulai terkikis dengan keberadaan orang yang tidak jujur yang semakin banyaknya. Dalam artian orang yang jujur lebih sedikit daripada orang yang tidak jujur dan iklas. Mengapa bisa dikatakan demikian, karena dalam kenyataannya saja, sering seseorang yang berbuat baik terhadap orang lain tetapi dia berniat mengharapkan imbalan atas perbuatannya itu. Itu bisa dikategorikan sebagai orang yang tidak ikhlas dalam tolong menolong. Memang secara tidak sengaja atau bahkan tidak terlalu diperhatikan orang, namun dalam buktinya orang yang menolong tersebut secara implisit mengharapkan imbalan yaitu berupa pujian dan berharap dia bisa menjadi pedoman baik bagi orang lainnya. Hal inilah yang bisa dibilang berbuat baik tapi pamrih. Masih tidak percaya???, mari coba kita tengok ketika seseorang berbicara bahwa dia baru saja berbuat baik kepada seseorang dan dia bercerita banyak tentang perbuatan baik yang baru saja dialaminya. Padahal apabila dia iklhas untuk menolong seseorang yang membutuhkan, dia tidak perlu bercerita kepada orang lain bahwa dia baru saja menolong seseorang yang sedang membutuhkan. Itu sama saja dia pamer terhadap keiklasan hatinya. Memang pada dasarnya dia benar-benar menolong orang, namun yang jadi permasalahannya disini mengapa dia tidak bisa menekan pembicaraan bahwa dia sudah berbuat baik dan malah bercerita banyak terhadap orang lain atas perbuatan dermawannya. Padahal jika dia tidak bercerita saja, namun apabila orang dapat melihat perbuatan baik yang dilakukan kita, itu merupakan pembelajaran yang mungkin menjadi pembelajaran baik bagi orang yang melihat tersebut. Pastinya jika orang tersebut memiliki jiwa sosial yang tinggi, hatinya akan terketuk dan bahkan bisa menirunya. Itulah mengapa kita perlu belajar dari permasalahan yang selama ini dianggap sepele namun bisa menjadi pengalaman yang menakjubkan.
Di dalam Al quran saja sudah diajarkan tentang belajar peduli antara sesama. Dari situlah juga disebutkan bahwa jika tangan kanan memberi, tangan kiri tidak boleh melihatnya. Kita bisa belajar dari pengalaman kita selama ini. Terkadang memang sulit untuk melakukan perbuatan yang baik tapi tanpa apresisai yang diberikan dari orang lain. Kita pastinya mengaharapkan apa yang kita lakukan bisa menjadi berguna dan berkesan bagi semua orang yang membutuhkan bantuan. Maka dari itu kita juga perlu belajar tentang arti keiklasan, agar apa yang kita cita-citakan selama ini atas perbuatan baik yang kita lakukan bisa menjadi amal ibadah di kelak nantinya.
Setiap orang tentunya memilki kepedulian yang tinggi dalam hal tolong-menolong. Tidak terlebih di zaman sekarang ini yang masih banyak orang berlomba-lomba untuk beramal dan berbuat baik antara sesamanya. Namun terkadang hal inilah yang mendorong timbulnya rasa ketidak jujuran dan keiklasan. Dapat dicontohkan saja pada sebuah kasus di bulan suci ramadhan dan idul fitri yang merupakan bulan suci yang penuh berkah bagi umat muslim diseluruh dunia. Umat muslim berlomba-lomba memanfaatkan moment ini untuk beramal sebanyak-banyaknya kepada orang yang membutuhkan. Memang jika dilihat dari rasa sosialnya mereka mempunyai jiwa tolong menolong yang tinggi dan rasa kemanusiaan yang tinggi, namun terkadang mereka kurang menyadari atas perbuatan yang mereka lakukan. Dalam artian mereka mengiginkan agar bantuan yang diberikan itu akan dibagikan oleh orang itu sendiri, bukan dipercayakan kepada panitia bantuan atau lembaga apa sajalah yang mengurusi tentang segala bantuan. Secara tidak langsung mereka ingin pamer atas perbuatan baik yang mereka lakukan kepada orang lain. Mungkin orang ini merasa dirinya sebagai dewa penolong bagi semua orang. Semua orang dikumpulkan, menunggu dan berdesak-desakan sampai menimbulkan kematian hanya untuk menerima sumbangan yang akan diberikan oleh dewa penolong. Padahal jika mereka (sang pemberi bantuan)itu sadar bahwa perbuatan yang dilakukannya itu tergolong perbuatan yang pamrih dan sombong, mungkin dia tidak akan melakukannya, apalagi sampai menimbulkan kematian. Nah,,dengan kasus seperti ini kita dapat menggarisbawahi bahwa perbuatan baik tidak selamanya bisa menimbulkan rasa keikhlasan.
Beda lagi dengan kejujuran yang mulai hilang di zaman sekarang ini. Sulit jika orang yang sudah terbiasa hidup tidak jujur dari kecil untuk bisa berbuat jujur nantinya disegala hal. Banyak kasus yang sering kita jumpai ketika seseorang berbuat tidak jujur. Misalkan saja pada kasus ketika kita makan atau jajan disuatu tempat, sering kita mendengar ketika orang yang jajan tersebut mulai melakukan perhitungan kepada sang penjual. Padahal jelas-jelas dia makan gorengan lima, tapi dia bilang kepada penjual itu telah makan gorengan tiga. Nah,,,apakah itu bisa dikatakan jujur????. Adalagi kasus lain yang sulit dihilangkan di negri tercinta ini, yaitu kasus praktek korupsi yang dilakukan oknum pejabat-pejabat pemerintahan. Mereka malah secara terang-terangan melakukana hal seperti itu, padahal dia sendiri juga tahu bahwa perbuatan yang mereka lakukan tidak benar dan salah yang mungkin nantinya bisa membahayakan mereka sendiri, yaitu jika perbuatan yang selama ini mereka lakukan diketahui bahwa mereka korupsi, maka penjara yang akan mereka dapatkan, atau bahkan mereka akan mempertanggung jawabkan itu semua diakhirat kelak nantinya.
Dengan berbagai macam kasus yang ada diatas, maka dapat kita simpulkan bahwa sebenarnya perbuatan baik itu masih ada, namun perbuatan baik itu tidak selamanya bertumpu pada rasa keiklasan. Itu sebabnya mengapa dapat dikatakan bahwa rasa keiklasan dizaman sekarang ini sudah mulai luntur dan jarang dijumpai.
artikel ini sangat bgus sekali,,hahahaha
BalasHapus